Lit didalam sebuah gedung atau rumah sakit menjadi fasilitas vital yang menunjang mobilitas manusia. Memang benar bahwa elevator adalah lingkungan yang menantang untuk mengelola risiko – volume kecil, banyak orang, tidak dapat sepenuhnya menjauhi jarak fisik – kita harus ingat bahwa keseluruhan risiko yang kita hadapi ketika dalam sebuah lift adalah fungsi dari tiga hal: intensitas, frekuensi dan durasi

Kabar baiknya di sini adalah frekuensi penggunaan elevator rendah (minimal dua kali sehari, kecuali Anda naik tangga satu arah,
atau mungkin empat kali per hari jika Anda berangkat untuk makan siang), dan durasinya pendek (beberapa menit).

Standar Protokol Kesehatan Dalam Lift

Pertama, pemilik bangunan perlu melakukan bagiannya. Ini termasuk mencari tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk menaikkan dan menurunkan elevator berdasarkan jumlah orang di dalam gedung, dan kemudian membuat area antrian yang sesuai di lobi di mana orang dapat mengantre setidaknya 6 kaki dari satu sama lain.

Upaya harus dilakukan untuk mengatur waktu kedatangan dan keberangkatan di gedung perkantoran komersial sehingga tidak ada kepadatan
yang berlebihan pada jam-jam sibuk.
Terakhir, ventilasi yang disuplai ke kabin elevator harus diperiksa dan dijalankan pada kecepatan kipas tertinggi.

Ini Yang Harus Anda Lakukan Ketika Didalam Lift

1.Kenakan Masker
2.Muat dalam pola papan catur dan maksimalkan jarak (lihat grafik di bawah).
3.Menghadap ke depan.
4.Umumkan lantai yang Anda inginkan.
5.Minta orang di dekat tombol memilih untuk semua, menggunakan buku jari.
6.Jangan bicara.
7.Usahakan untuk tidak bersin atau batuk.
8.Jika harus, putar ke arah dinding dan batuk / bersin ke siku dengan masker.
Ketika pintu terbuka di lantai, orang tengah bergerak ke samping dan orang depan bergerak keluar untuk membuat jalan keluar.

 

Standar protokol tersebut WAJIB anda lakukan ketika lit dalam keadaan lebih dari 2 orang. Jika tidak resiko terpapar sangat TINGGI bahkan tidak ada celah tidak terkena paparan virus. Stay save everyone!

Menyambut Adaptasi Kebiasaan Baru pekerja kantoran hingga harian mulai beraktivitas ramai diluar rumah, dengan tetap menggunakan masker, menjaga jarak, serta mencuci tangan. Protokol ini seyogyanya tetap diinisiasi dalam pembahasan Tips Menggunakan Lift agar dapat setidaknya mencegah penularan covid.

Penyebaran virus corona terjadi ketika orang yang terinfeksi mengeluarkan tetesan cairan (droplet) saat dirinya batuk, bersin, atau berbicara. Bisa menularkan secara langsung ke orang lain, atau meninggalkan droplet di permukaan benda sekitar. Virus ini juga dapat menyebar melalui partikel-partikel kecil yang disebut aerosol, dikeluarkan ketika orang bernapas, berbicara, atau bernyanyi.

 

Bagaimana supaya tidak terpapar covid saat menggunakan lift?

Tips Menggunakan Lift Supaya Tidak Terpapar COVID

Beberapa kasus ‘superspreading’ menunjukkan ruangan tertutup yang padat dengan ventilasi yang buruk membuat risiko besar untuk penularan penyakit. Superspreading merupakan kejadian saat satu orang menyebarkan virus ke banyak orang.

Panduan penggunaan lift untuk cegah penularan

Salah satu ruang tertutup adalah lift dan tempat ini tertutup kotak logam dengan tombol yang sering disentuh oleh banyak orang, membawa risiko yang sama untuk penyebaran.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bahkan berencana untuk mengeluarkan panduan resmi tentang cara naik lift dengan aman di tengah pandemi Covid-19. Langkah-langkah yang direkomendasikan akan mencakup keharusan semua orang yang naik lift memakai masker, membatasi jumlah pengguna, menandai jalur di lantai untuk mengarahkan orang masuk dan keluar. Termasuk memasang tanda untuk mengingatkan orang bahwa jangan ngomong atau berbicara selama berada di lift, kecuali sangat terpaksa

Pada bulan April 2020, Corsi mengembangkan model komputer untuk mensimulasikan bagaimana orang yang terinfeksi dapat mengkontaminasi lift selama perjalanan naik turun dari 10 lantai. Dengan memperhitungkan kecepatan lift standar, sistem ventilasi, dan waktu penutupan pintu lift, pemodelan Corsi mensimulasikan berapa banyak virus yang akan dikeluarkan orang terinfeksi, saat maskernya terbuka kemudian batuk, atau saat berbicara di telepon selama perjalanan lift.

Hasilnya, sekali batuk orang tersebut dapat mengeluarkan ribuan hingga ratusan ribu partikel virus, yang sebagian jatuh ke bawah, menempel di sisi lift, dan melayang di udara. Sementara sambil berbicara di telepon akan mengeluarkan sekitar seperlimapuluh jumlah partikel virus per detik dibandingkan dengan batuk ringan. Meskipun jumlah ini bisa sangat bervariasi di kehidupan nyata. Setelah lift terkontaminasi, ketika orang yang terinfeksi keluar, dalam proses buka-tutup pintu lift maka udara dalam lift akan berputar dan bercampur dengan udara di luar, mengencerkan udara dalam lift.

Pemodelan juga memperkirakan ketika pengguna lift kedua masuk, ia akan terpapar sekitar 25 persen dari partikel virus yang telah dikeluarkan oleh orang terinfeksi yang sebelumnya menggunakan lift. Persentase ini akan bervariasi tergantung pada jenis lift dan tekanan udara di dalam bangunan.

 

Partikel virus yang dapat menginfeksi

Meski demikian, Corsi menekankan partikel virus yang tersisa bisa jadi tidak cukup banyak untuk benar-benar menginfeksi pengguna lift selanjutnya. Sebab, para ilmuwan belum menentukan berapa banyak partikel virus yang harus dihirup seseorang untuk bisa terinfeksi. Kemungkinan seseorang dapat tertular Covid-19 dari sisa virus yang mengambang di lift, tidak dapat dihitung secara tepat.

Resiko menggunakan lift setelah orang yang terinfeksi keluar memang masih belum jelas. Meski demikian, menggunakan lift bersamaan dengan orang yang terinfeksi jelas memiliki risiko penularan yang signifikan.

Umumnya standar lift berukuran 130×173 cm, menurut Stanley Elevator Company. Dimensi ini memang membuat kegiatan menjaga jarak menjadi sangat sulit, tapi usahakanlah untuk bisa berdiri sejauh mungkin satu sama lain. “Berdiri sejauh yang Anda bisa secara diagonal di dalam lift adalah hal baik (menghindari penularan Covid-19), dan jangan bicara.